Sabtu, 05 September 2015


DIPENDIKAN, TERASA DI AWAN BAGI MASYARAKAT RUSUNAWA
            Pendidikan saat ini tidak lagi menjadi sorotan utama dalam masyarakat. Namun, fenomena yang sungguh sangat mengejutkan datang dari masyarakat rusunawa di desa Bakalan Krapyak, kec Kaliwungu, Kab. Kudus. Dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda, bmasyarakat rusunawa juga mempunyai berbagai problematika yang tak sama. Salah satu problem yang saya sorot sekarang ini adalah masalah minimnya pendidikan formal yang dimiliki anak-anak rusunawa. Hal ini saya ketahui dari kegiatan Bimbingan Belajar untuk anak-anak rusunawa desa Bakalan Krapyak, Kec. Kaliwungu, Kab. Kudus bersama teman-teman relawan pengajar. Dalam satu kesempatan bimbingan belajar dengan anak-anak rusun, saya bertemu tengan salah satu peserta bimbingan belajar, awalnya saya tidak tahu bahwa dia belum bisa membaca,karena saya berfikir dia yang sudah mahir membaca ketika dia bilang kalau dia duduk di kelas 2 di suatu sekolah dasar. Namun, saat dia sedang mengerjakan soal, saya merasa ganjil, banyak soal yang jawabannya salah, padahal saya rasa soal yang dia kerjakan hanyalah seputar pertanyaan kehidupan keseharian. Contohnya,” supaya gigi tidak sakit, kita harus menjaga kesehatan gigi dengan rajin . . . “.dalam soal pilihan tersebut sengaja saya koreksi pekerjaannya dengan  membacakan soalnya sedikit lebih keras dengan maksud agar dia mendengar dan memahami.
Saat itu saya tidak punya firasat apa-apa kalau anak ini belum bisa membaca, jadi yang saat itu saya fikirkan bahwa mungkin dia sedang tidak fokus atau hanya kurang teliti dalam menyilang jawaban.Setelah saya selesai membaca soal,dia dengan mudahnya menjawab soal tadi dengan jawaban yang benar, dan begitu seterusnya sampai 5 soal. Kemudian, saya meminta dia untuk melanjutkan mengerjakan soal yang lain, ketika itu saya mulai merasa tambah ganjil, kenapa hasil silangannya tidak sama dengan jawaban yang dia sebutkan. Akhirnya saya merasa bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres dengan anak ini. Saya meminta dia untuk membaca ulang soal yang dikerjakannya dengan suara yang lebih jelas supaya saya dan dirinya bisa mendengar dan dia bisa meresapi apa yang dia baca. Ternyata, sungguh mengejutkan dia mengaku bahwa dia belum bisa membaca dengan lancar.
Dari sini saya berfikir bahwa ini bukanlah problem yang sepele bagi anak zaman sekarang. Karena, setidaknya anak kelas 1 SD sudah bisa membaca satu, dua, atau tiga kata dengan lancar bahkan ada yang sudah mulai lancar membaca satu kalimat bahkan beberapa kalimat. Setelah saya bicarakan dengan pengurus bimbingan belajar di sana, ternyata salah satu dari pengurus tersebut menuturkan bahwa, anak tersebut baru mulai sekolah dan anehnya dia langsung masuk ke kelas dua dan belum pernah merasakan bangku sekolah sebelumnya. Dan yang lebih ironi, si anak juga jarang masuk sekolah karena memang keluarganya tidak begitu memperhatikan sekolah anak. Alhasil, anak jarang masuk sekolah dibiarkan dan dampaknya anak ketinggalan jauh materi pelajaran disekolahnya sampai-sampai anak tersebut belum lancar membaca tulisan.
Namun tidak berhenti pada satu alasan itu saja, ternyata sebab musabab dari dia belum pernah merasakan bangku TK maupun SD kelas 1 dikarenakan keluarganya yang belum mempunyai biaya yang cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ini menjadi hal yang bukan lagi masalah sepele. Saya merasa sedih dan marah terhadap diri sendiri ketika ada suatu keadaan yang menyebabkan anak-anak kehilangan kesempatan bersekolahnya dan hal itu dikarenakan masalah ekonomi keluarga. Namun, saya masih ingat pesan salah seorang kepada saya. Bahwa kemampuan ekonomi tiyap keluarga itu berbeda-beda, namun jika kita menyalahkan keadaan ini karena si anak tidak bisa lanjut sekolah itu bukan sikap yang tepat. Lalu, sebenarnya sikap bagaimana yang tepat dalam masalah pendidikan dan ekonomi keluarga?

Ini memberikan pelajaran yang begitu berharga bagi saya tentang nikmat yang begitu luar biasa yang saat ini ALLAH titipkan kepada saya dan keluarga. Keluarga yang berpenghasilan tetap walau pas-pasan, tapi sekarang dengan gaji ayah saya yang tak lebih dari 1 juta ini mampu menghidupi kami sekeluarga bahkan mampu menyekolahkan saya hingga saat ini duduk di bangku perkuliahan. Maka benar akan syariat islam yang menyuruh kita untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal. Karena kita tidak tau, apakah nikmat yang kita rasa sedikit ini juga dimiliki oleh orang lain, atau bahkan orang lain justru tidak merasakan nikmat itu sedikitpun. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar