DIPENDIKAN, TERASA DI AWAN BAGI MASYARAKAT RUSUNAWA
Pendidikan
saat ini tidak lagi menjadi sorotan utama dalam masyarakat. Namun, fenomena
yang sungguh sangat mengejutkan datang dari masyarakat rusunawa di desa Bakalan
Krapyak, kec Kaliwungu, Kab. Kudus. Dari berbagai latar belakang keluarga yang
berbeda, bmasyarakat rusunawa juga mempunyai berbagai problematika yang tak
sama. Salah satu problem yang saya sorot sekarang ini adalah masalah minimnya pendidikan
formal yang dimiliki anak-anak rusunawa. Hal ini saya ketahui dari kegiatan
Bimbingan Belajar untuk anak-anak rusunawa desa Bakalan Krapyak, Kec.
Kaliwungu, Kab. Kudus bersama teman-teman relawan pengajar. Dalam satu
kesempatan bimbingan belajar dengan anak-anak rusun, saya bertemu tengan salah satu
peserta bimbingan belajar, awalnya saya tidak tahu bahwa dia belum bisa
membaca,karena saya berfikir dia yang sudah mahir membaca ketika dia bilang
kalau dia duduk di kelas 2 di suatu sekolah dasar. Namun, saat dia sedang
mengerjakan soal, saya merasa ganjil, banyak soal yang jawabannya salah,
padahal saya rasa soal yang dia kerjakan hanyalah seputar pertanyaan kehidupan
keseharian. Contohnya,” supaya gigi tidak sakit, kita harus menjaga kesehatan
gigi dengan rajin . . . “.dalam soal pilihan tersebut sengaja saya koreksi
pekerjaannya dengan membacakan soalnya
sedikit lebih keras dengan maksud agar dia mendengar dan memahami.
Saat
itu saya tidak punya firasat apa-apa kalau anak ini belum bisa membaca, jadi
yang saat itu saya fikirkan bahwa mungkin dia sedang tidak fokus atau hanya
kurang teliti dalam menyilang jawaban.Setelah saya selesai membaca soal,dia
dengan mudahnya menjawab soal tadi dengan jawaban yang benar, dan begitu
seterusnya sampai 5 soal. Kemudian, saya meminta dia untuk melanjutkan mengerjakan
soal yang lain, ketika itu saya mulai merasa tambah ganjil, kenapa hasil
silangannya tidak sama dengan jawaban yang dia sebutkan. Akhirnya saya merasa
bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres dengan anak ini. Saya meminta
dia untuk membaca ulang soal yang dikerjakannya dengan suara yang lebih jelas
supaya saya dan dirinya bisa mendengar dan dia bisa meresapi apa yang dia baca.
Ternyata, sungguh mengejutkan dia mengaku bahwa dia belum bisa membaca dengan
lancar.
Dari
sini saya berfikir bahwa ini bukanlah problem yang sepele bagi anak zaman
sekarang. Karena, setidaknya anak kelas 1 SD sudah bisa membaca satu, dua, atau
tiga kata dengan lancar bahkan ada yang sudah mulai lancar membaca satu kalimat
bahkan beberapa kalimat. Setelah saya bicarakan dengan pengurus bimbingan
belajar di sana, ternyata salah satu dari pengurus tersebut menuturkan bahwa,
anak tersebut baru mulai sekolah dan anehnya dia langsung masuk ke kelas dua
dan belum pernah merasakan bangku sekolah sebelumnya. Dan yang lebih ironi, si
anak juga jarang masuk sekolah karena memang keluarganya tidak begitu
memperhatikan sekolah anak. Alhasil, anak jarang masuk sekolah dibiarkan dan
dampaknya anak ketinggalan jauh materi pelajaran disekolahnya sampai-sampai
anak tersebut belum lancar membaca tulisan.
Namun
tidak berhenti pada satu alasan itu saja, ternyata sebab musabab dari dia belum
pernah merasakan bangku TK maupun SD kelas 1 dikarenakan keluarganya yang belum
mempunyai biaya yang cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ini menjadi hal
yang bukan lagi masalah sepele. Saya merasa sedih dan marah terhadap diri
sendiri ketika ada suatu keadaan yang menyebabkan anak-anak kehilangan
kesempatan bersekolahnya dan hal itu dikarenakan masalah ekonomi keluarga.
Namun, saya masih ingat pesan salah seorang kepada saya. Bahwa kemampuan
ekonomi tiyap keluarga itu berbeda-beda, namun jika kita menyalahkan keadaan
ini karena si anak tidak bisa lanjut sekolah itu bukan sikap yang tepat. Lalu,
sebenarnya sikap bagaimana yang tepat dalam masalah pendidikan dan ekonomi
keluarga?
Ini
memberikan pelajaran yang begitu berharga bagi saya tentang nikmat yang begitu
luar biasa yang saat ini ALLAH titipkan kepada saya dan keluarga. Keluarga yang
berpenghasilan tetap walau pas-pasan, tapi sekarang dengan gaji ayah saya yang
tak lebih dari 1 juta ini mampu menghidupi kami sekeluarga bahkan mampu
menyekolahkan saya hingga saat ini duduk di bangku perkuliahan. Maka benar akan
syariat islam yang menyuruh kita untuk senantiasa bersyukur dalam segala hal.
Karena kita tidak tau, apakah nikmat yang kita rasa sedikit ini juga dimiliki
oleh orang lain, atau bahkan orang lain justru tidak merasakan nikmat itu
sedikitpun. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar